Sepenggal Cerita “Saya” dan “Masyarakat ACEH” Tentang Life Skill dalam Mengemban Misi Pendidikan dari PLSP di NAD
Oleh: Syaiful Ahdan, S.Kom
Setelah kami tiba di NAD, Kami di sambut oleh Tim Satgas Pendidikan antara Lain : Bpk.Tata Sumitra, dan teman –teman lainnya seperti Saudara Wawan, Ibra, Delon, Komarudin. kami tinggal dilokasi yang tidak jauh dari kejadian tsunami yaitu desa lamlagang, kami diberikan tanggung jawab untuk menjadi Instruktur Komputer, ada beberapa titik lokasi yang menjadi bagian tanggung jawab kami antara lain : desa lamlagang, lambaro dan masih ada beberapa desa yang menjadi titik lokasi tanggung jawab kami, tapi terus terang saya lupa nama desa tersebut, karena sangat asing bagi saya untuk menghafalnya dan lagi sudah lima tahun berlalu.
Kami memiliki fasilitas laboratorium yang kami dapatkan dari bantuan PLSP dan laboratorium tersebut tersebar di beberapa titik strategis antara salah satunya adalah di desa lamlagang dimana tempat kami tinggal. Target peserta didik kami adalah para masyarakat yang putus sekolah lebih spesifik lagi adalah masyarakat yang terkena musibah tsunami, tujuan dari kami memberikan keterampilan kecakapan hidup bukan semata-mata hanya menuntut mereka agar belajar maksimal. Tetapi memberikan pendidikan yang bersifat Edutaiment agar mengembalikan semangat mereka dan menambah motivasi agar memiliki semangat untuk bangkit untuk lebih memaknai arti kehidupan. Sehingga mereka tidak lagi memikiran bagaimana kesedihan yang mereka alami, melainkan belajar dan berjuang guna membangun daerah mereka.
Proses pembelajaran di lingkungan dimana tempat kami tinggal, dimulai dari jam 10 :00 sampai dengan jam 21:00, sehingga kami harus membagi tugas dan tanggun jawab. Ada 5 orang instruktur secara bergantian dalam 1 hari, Pelatihan Komputer yang kami ajari adalah : Program Aplikasi Ms.Office, Program Teknisi Komputer, Trouble Shooting Hardware Software. Selain mengajar kami memiliki waktu-waktu senggang, yang kami manfaatkan untuk bergaul dengan masyarakat aceh, dan melihat lokasi-lokasi tempat terjadinya tsunami.
Kami berada di aceh kurang lebih 30 hari, yang nantinya kami harus bertukar posisi dengan angkatan berikutnya, banyak kemajuan yang kami perhatikan khususnya bagi peserta didik, mulai dari kemampuan teknis apa yang mereka pelajari, sampai dengan masalah emosional mereka yang mulai stabil, warga belajar yang mayoritas dari penduduk putus sekolah mulai dari anak anak sampai dengan orang dewasa, bahkan ada seorang dosen yang juga mengikuti pelatihan tersebut kalau tidak salah namanya pak … aduh sudah lupa saya … oh ya bapak Irwansyah dosen Ekonomi dari Universitas Syahkuala, (semoga sampai saat ini ia diberikan kesehatan oleh allah swt) dan juga untuk teman-teman dari aceh lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu… semoga kalian dapat melewati ujian ini.
Sekarang Aceh sudah semakin maju, saya bisa tau dengan melihat di siaran televisi , pembangunan yang makin hari semakin bertambah, semoga membuat masyarakat aceh dapat maju dan tetap menjadi “Serambi Mekah”… dan semoga apa yang kami berikan akan bermanfaat untuk teman-teman dan untuk Nangroe Aceh Darusallam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar